COMPUTER HISTORY

Komputer...siapa yang tak mengenal benda elektronik itu? Benda yang tidak diragukan lagi, telah menyokong kehidupan manusia modern. Hampir 80% aktivitas kerja kita disokong oleh benda yang satu ini...

Lalu, bagaimana seorang Eko Ramaditya Adikara (tunanetra) dapat berinteraksi dengan komputer yang notabene membutuhkan penglihatan untuk dapat mengoperasikannya? Simak pengalaman penulis lewat artikel ini!

Sebenarnya, penulis sudah mengetahui nama komputer sejak kecil. Hanya saja pada saat itu pengertian penulis akan komputer masih bias antara mesin game, mesin hitung, dan mesin untuk menulis surat. Entah mengapa, penulis begitu tertarik berdekatan dengan benda yang satu itu, barangkali karena imajinasi penulis yang saat itu senang menonton film kartun futuristik yang mengetengahkan komputer di dalam ceritanya, atau karena tetangga yang saat itu memiliki Atari Street, sebuah komputer yang juga berfungsi sebagai mesin game yang dirilis oleh Atari (1986). Jadi, ketika ditanya saat itu (5 tahun), apa cita-cita penulis, maka dengan lantangnya penulis menjawab "Ingin jadi ahli kompyuter!" (saat itu cara eja yang penulis lafalkan adalah seperti yang tertulis)

Pengertian penulis akan komputer semakin luas ketika penulis mulai bersekolah di SLB (SD), dan setiap minggu sehabis pulang dari asrama, penulis diajak ayah penulis ke kantornya. Disitulah penulis diperkenalkan dengan komputer platform DOS (Disk Operating System) dan beberapa komputer Amiga yang saat itu (1989) boleh dibilang populer. Disinilah penulis mengenal game-game komputer berbasis DOS yang cukup legendaris, seperti Digger, Pac-Man, Othello, atau Double Dragon dan Ghostbuster yang sudah multi-disket. Penulis juga mulai mengenal nama-nama aplikasi pengolah kata dan data seperti Lotus 123, WordStar, Dbase, dan beberapa bahasa pemrograman, meskipun pada saat itu penulis hanya mengenal nama tanpa tahu banyak mengenai fungsinya (lebih tertarik pada game).
Pada tahun 1994, penulis bergabung dengan Yayasan Mitra Netra yang berkiprah di bidang pengembangan potensi diri dan pendidikan tunanetra. Disitulah penulis mengenal adanya komputer bicara, yaitu seperangkat komputer biasa yang diperlengkapi dengan peralatan khusus yang membuatnya dapat mengeluarkan suara. Cara kerjanya; perangkat keras dan perangkat lunak khusus yang terpasang di komputer tersebut mengkonversi/menterjemahkan teks atau obyek yang muncul di layar monitor dalam bentuk suara. Jadi, semisal penulis mengetikkan perintah CD\WINDOWS maka akan terdengar suara "si di backslash windows" (artikulasi bahasa Inggris yang ditulis dalam bahasa Indonesia). Sayangnya, aplikasi untuk komputer bicara itu harganya masih terlalu mahal dan tidak dapat dimiliki secara individu. Oleh karenanya, penulis sering memanfaatkan komputer yang ada di Mitra Netra untuk mempelajari DOS dan beberapa aplikasi dasar pengolah kata dan data seperti WordStar, WordPerfect, Lotus 123, Dbase, dan sejumlah aplikasi lain.

Dalam perkembangannya, penulis banyak menggunakan aplikasi pengolah kata dikarenakan penulis sangat menyenangi tulis-menulis. Pada tahun 1996, salah seorang mahasiswi yang sedang mengadakan penelitian di asrama penulis (namanya Silvia) merasa kagum saat melihat penulis yang membukukan buku harian dalam format dokumen WordStar. Setelah lulus dan bekerja sebagai sekretaris, secara pribadi Silvia mengajari penulis berbagai teknik penguasaan keyboard, termasuk shortcut dan teknik mengetik 10 jari. Dalam jangka waktu kurang dari 2 bulan, penulis telah berhasil menguasai teknik mengetik 10 jari dengan lancar. Hingga saat ini, ilmu yang diwariskan Silvia telah berhasil membuat penulis mengetik sebanyak 60 kata (Indonesia/Inggris) dalam waktu 1 menit.

Tahun 1998 adalah tahun dimana penulis berkenalan dengan sistem operasi buatan Microsoft, Windows. Pada saat itu penulis mempelajari Windows 95, setelah akhirnya memiliki komputer sendiri yang berbasis Windows 98. Pada saat itu, penulis mengetahui bahwa komputer bicara pun dapat diwujudkan dengan teknologi sekarang, dan tak perlu membeli perangkat khusus. Cukup memasang soundcard dan speaker pada komputer, lalu memasang software pembaca layar (screen reader) yang fungsinya sama seperti yang telah penulis jelaskan di atas. Produk pembaca layar yang sangat populer dan juga penulis gunakan hingga saat ini adalah JAWS (Job Access With Speech). Keterangan lebih lanjut dapat langsung dilihat di situs officialnya di:

http://www.freedomscientific.com

Lewat aplikasi JAWS inilah penulis semakin memperluas pengetahuan penulis di bidang komputer. Hingga saat ini, penulis dapat mengoperasikan berbagai pengolah kata, pengolah data, spreadsheet, aplikasi pembuat musik, multimedia, messenger, bahkan berselancar di internet dan mendesain situs ini. Penulis juga dapat bercakap-cakap via messenger, burn CD/DVD, melakukan konversi audio/video, dan belajar beberapa bahasa pemrograman seperti Visual Basic dan Visual C++.

Pada perkembangannya, penulis juga mendalami ilmu mengenai perangkat keras (hardware), baik komputer maupun notebook. Melalui buku-buku dan majalah komputer, penulis banyak mempelajari berbagai pengetahuan seputar komputer, optimasi sistem operasi, bahkan jaringan. Penulis juga mulai mencoba merakit komputer sendiri, tak jarang dimintai tolong oleh kenalan yang ingin memperoleh komputer harga miring dengan konfigurasi lumayan.

Mengoperasikan dan belajar perangkat lunak pada Windows merupakan kegemaran penulis. Tantangan utama yang dihadapi penulis sebagai tunanetra adalah soal kompatibilitas pembaca layar terhadap perangkat lunak. Tak semua perangkat lunak dapat dibaca atau dikenali oleh pembaca layar. Solusinya, biasanya penulis menghafal shortcut atau mencari skrip pembaca layar -- lewat internet -- yang sengaja dibuat orang yang ingin membantu tunanetra menggunakan aplikasi tertentu. Skrip tersebut nantinya di-import sehingga pembaca layar dapat mengenali aplikasi yang sedang dijalankan.

Dalam proses pembelajaran perangkat keras, kendalanya sama banyak dengan belajar perangkat lunak. Penulis harus mampu mengenali hardware hanya dengan perabaan, kemudian membedakan kabel-kabel yang berlainan warna. Untuk mengakalinya, biasanya penulis memberi tanda dengan menempelkan stiker atau tanda pengenal yang dapat diraba dan dijadikan sebagai penanda. Tentu saja, kejadian-kejadian seperti tersengat alus listrik, meledakkan prosesor, atau salah memasukkan hardware pernah penulis alami.

Lalu, bagaimana penulis dapat membaca buku atau majalah, sedangkan penulis tidak dapat melihat? Awalnya, orangtua -- dalam hal ini ayah penulis -- merekam buku-buku pelajaran sekolah ke bentuk kaset sehingga penulis dapat memperoleh informasi yang ada dalam media cetak dengan cara mendengarkan kaset tersebut. Hal itu termasuk media cetak komputer milik penulis.

Kini, penulis sudah dapat membaca media cetak sendiri, caranya adalah dengan menggunakan scanner dan memanfaatkan teknologi OCR (Optical Character Recognition), yaitu teknik memindai tulisan di buku menjadi teks dengan cara melakukan scan pada media cetak, dan hasilnya dapat disimpan dalam format teks atau MS-Word, yang dapat dibaca oleh screen reader.

 

Berikut ini aplikasi-aplikasi yang sering penulis gunakan



Aplikasi kerja:

- Microsoft Office

- OpenOffice



Multimedia:

- Winamp

- Windows Media Player

- Media Player Classic

- PowerDVD



Browser:

- Internet Explorer

- Mozilla Firefox



Music & Audio Maker/Editor:

- Cakewalk SONAR

- Cakewalk Pro Audio

- Cubase

- Reason

- Adobe Audition



Messenger:

- SKIPE

- Yahoo! Messenger

- Windows Messenger

- AOL

- ICQ



Assistive Application (Aplikasi khusus tunanetra):

- JAWS For Windows

- OpenBook