NONTON KONSER MUSIK GAME DI INDONESIA

PROLOG

Sebuah momen bersejarah baru saja berlangsung di Jakarta, Indonesia. 28 Juli 2006 akan tercatat sebagai hari dimana konser musik game untuk pertama kalinya
digelar di Indonesia. Beginning of Fantasy - konser musik akbar dari game Final Fantasy yang digubah oleh Nobuo Uematsu... Twilite Orchestra di bawah pimpinan
Adi MS membawa impian pecinta musik game itu menjadi kenyataan... Yeah yeah yeah, cukup ye basabasinye, bisa2 gue dikeroyok wartawan yang bertugas nulis
artikel tentang acara ini, hehehe! So, sekarang...on to the topic dech!!!

Oh ya, sebelum lanjut gue mau ingetin kalau tulisan ini bukanlah review, jadi nggak akan mendetail karena itu udah dilakukan kawan2 yang lain di media
cetak dan elektronik. Jadi kalau mau tau lebih lanjut, silahkan aja baca review mereka. Disini gue cuma mau cerita apa yang gue dengar dan rasakan, in
other words, komentar dari pemirsa, hehehe!

THE IDEA

Sebenernya apa sih yang menjadi ide dasar konser ini? Nggak terlalu jelas juga, tapi intinya beberapa tahun yang lalu sekumpulan pecinta musik game memposting
ide mereka di sebuah forum yang isinya kira2 ingin ngadain konser musik game di Indonesia.

Lama banget forum itu eksis, dan terus aja berjalan. Ada yang kepingin nyiapin grup sendiri, menghubungi orkestra di Indonesia untuk ngusulin bikin konser
musik game, dll. Kalau gue nggak salah hitung, kira2 udah sekitar dua tahun deh...sampai saat itu tiba!

Di awal2 tahun ini, gue denger selentingan kalau Twilite Orchestra, salah satu dedengkot grup musik simfonik pimpinan Adi MS yang ada di Indonesia bakal
ngadain konser Final Fantasy. Terlepas apakah itu betul atau nggak, dan apakah ide itu ada relasinya dengan posting di forum itu, gue ngerasa seneng banget
dan berharap selentingan itu nggak sekedar buah bibir.

Nyatanya, itu betul2 nyata! Gue buka situs resmi Twilite di www.twiliteorchestra.org dan betul nemuin info kalo konser itu bakal digelar!

BEFORE THE CONCERT

Sejak H-7 (7 hari sebelon konser, in case you don't know), gue sudah memesan tiket untuk nonton konser yang diadain di Tennis Indoor Senayan itu. Selanjutnya,
gue merasa kena sindrom aneh. Nggak bisa tidur, pikiran gue terus melayang ke hari di mana konser bakal digelar. "Bahagia yang memuncak," gitu kata temen
gue yang menguasai soal konseling. Menurut dia itu karena gue sudah lama mengimpikan hal ini, dan musik game adalah dunia yang gue miliki. Jadi, rasanya
nggak terlalu berlebihan, soalnya memang di Indonesia musik game masih dianggap barang langka, dan nantinya barang itu bakal dipertunjukkan di depan umum
dan dipeluk fans2nya...!

Inbox e-mail gue pun nggak kalah aneh dan penuhnya. Sampai H-1 ada sekitar 50 e-mail dari temen2 penggemar musik game yang nanya atau komentar hal yang
sama. "Nanti direkam ya?" "Gue mau bawa handycam ah!" "Mau pakai kostum apa ya?" "Gue ragu konsernya bakal sukses, tapi kita liat aja deh!" "Apapun hasilnya
yang penting gue nonton konser game," dan sebuah pertanyaan konyol yang diajukan sobat gue lewat telepon: "Hei, gue bisa beli tiket dimana ye?"

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba! Di hari itu gue mangkal dulu di kantor majalah HotGame untuk ngobrol dan mempersiapkan apa2 yang bakal dilakuin waktu
acara konser nanti. Keliatan banget kalau staf majalah game Indonesia itu begitu sibuk mempersiapkan wawancara dan liputan untuk konser perdana ini. Meskipun
suasananya santai dan menyenangkan, tapi tetep nggak bisa menghilangkan ketegangan gue nunggu saat2 konser.

Ketika sorenya gue tiba di lokasi, sebuah perasaan yang gue tahan2 kembali muncul. Perasaan ini yang gue yakin, pastinya dirasain sama pecinta game di
Indonesia. Apaan sih!? Ya, keragu-raguan kalau konser ini bakal berhasil. Bimbang dalam tanya, apa Twilite Orchestra bakal berhasil memainkan musik2 dari
Final Fantasy ini? Tapi keraguan itu terjawab sudah ketika gue secara nggak sengaja dengerin latihan mereka dari luar gedung. Waktu itu yang gue denger
adalah lagu dari Aerith's Theme (Final Fantasy VII) yang dimainkan dengan mulus.

Tenang rasanya! Akhirnya gue memutuskan untuk menikmati santapan lezat dan sajian atraksi costplay yang digelar di luar gedung. Wah, yang ini juga nggak
kalah serunya! Selain menjual makanan dan berbagai hal tentang Jepang, kita juga disuguhi costplay, yaitu pertunjukan aksi orang2 yang mengenakan kostum
karakter, yang kali ini dari Final Fantasy. Nggak cuma FF aja sih, bahkan ada juga yang berpakaian ala Star Wars dan Superman!

Setelah itu, ponsel gue bolak balik berdering, menerima SMS dan telepon dari lebih 20 orang sohib gue yang ternyata juga udah ada di lokasi. Kita memang
sengaja mencar untuk menikmati konser ini dari berbagai perspektif.

Sayangnya, gue rada kecewa karena konser yang harusnya dimulai jam 20:00 WIB jadi molor satu jam gara2 pintu nggak juga dibuka. Padahal katanya pintu masuk
bakal mulai buka jam 19:30 WIB. Jadi deh gue rada kesel karena lebih dari setengah jam kudu antre dan terpaksa denger lagu jingle XL yang jadi sponsor
acara malem ini. Tapi nggak apalah pikir gue, toh nanti semua itu bakal terobati begitu konser dimulai.

LET THE BEGINNING OF FANTASY BEGINS!!!

Akhirnya semua masuk ke ruangan dan menempati tempat duduk masing2. Lagi2 gue harus merasa sedikit kecewa karena tempat duduk VIP yang kita tempati malah
lebih mirip balkon. Yah, kayak tempat duduk Metro Mini gitu deh! Gue malah mikir, mungkin nasib gue bakal lebih baik kalo beli tiket festival yang 100
ribu lebih murah dan juga dibagiin gratis di Plaza Senayan. Yah, tapi nggak apalah! Ini kan Indonesia, you know what I mean. Blame the EO, hehehe!

Yup! Akhirnya konser dimulai juga. Dibuka dengan lagu Liberi Fatali dari Final Fantasy VII, suara penonton mulai menggemuruh. Lalu, gue pun berbisik...jadi
konser game betul2 digelar di Indonesia, disini, di hadapan gue! Gue nggak lagi ngimpi atau berfantasi kan? Itu yang gue pikirkan sampai genderang megah
dari lagu itu menghentak dan membawa gue dalam kenikmatan konser.

Setelah acara dibuka presenter, tiba gilirannya Arina (Mocca) melantunkan suara manisnya. Penyanyi yang sudah memasarkan albumnya ke luar negeri itu membawakan
theme song dari FFIX, Melodies of Life, yang aslinya dibawakan oleh Emiko Shiratori. Menurut gue, cukup bagus dan manis. Hanya mungkin yang kurang adalah
penghayatannya. Menurut gue, Arina mungkin cuma menghafalkan saja lirik lagu itu tanpa mendalami maknanya...set dah, puitis amat yak!?

Selanjutnya, Twilite Orchestra menampilkan salah satu lagu paling megah dari Final Fantasy, yaitu Terra's Theme (Tina dalam versi Jepang) yang diambil
dari FFVI. Lagunya megah dan bernuansa heroik. Kalau di gamenya, lagu ini dipakai waktu kita berkelana menjelajahi peta, pindah dari satu kota ke kota
lain, jadi kebayang kan suasana petualangannya? Gue sempet terkesiap juga, pasalnya menurut info lagu ini nggak bakal dipentaskan karena nggak terlalu
dikenal. Tapi nyatanya Twilite berhasil membawakannya dengan tiada kata selain MEGAH! Mungkin sedikit kekurangannya cuma suara violin di tengah2 lagu yang
rada nyelip (ini bentuk penyederhanaan dari istilah dalam teori musik yang gue nggak pernah ngerti).

Hening sejenak, dan lagu yang udah nggak asing lagi buat pecinta FF pun terdengar. Yap, apalagi kalau bukan Eyes on Me dari FF VIII? Dibawakan oleh Arina
(lagi), lagunya terdengar manis. Sayangnya, penempatan perkusi di lagu ini kurang bagus, jadi suaranya meredam instrumen lain yang juga ikut2an hilang
gara2 sound system yang kacau. Suara Arina juga terdengar adu balap dengan tempo musiknya, jadi memang sedikit tidak nyaman. Tapi secara umum lagu ini
tetap terdengar manis kok. Kalau menurut gue, lagu yang pernah dibawakan oleh Fay Wong (Pop style) dan Angela Aki (Jazz style) ini berusaha mengadopsi
kedua aliran musik itu deh.

Beyond the Door/Towards the Gate dari Final Fantasy IX adalah lagu yang dimainkan selanjutnya. Wah, kalau menurut gue ini sih yang paling kacau. Yang pertama,
suara piano terlalu keras dan menusuk (again, blame the EO) dan itu mempengaruhi banget kenikmatan mendengarkan musik yang satu ini. Tapi berhubung cuma
musik pendek, jadi nggak terlalu mengganggu. Yah tapi yang itu tadi, gara2 masalah pada sound system jadi membuat lagu ending ini nggak semulus aslinya.

Siapa pernah dengar Tifa's Theme versi piano? Kalau punya album Final Fantasy VII Piano Collection atau pernah nonton film animasi Final Fantasy Advent
Children pasti bakal langsung unjuk jari. Nah, lagu manis ini dimainkan oleh Jessica Gunawan, salah seorang pianis cewek yang mengajukan diri untuk konser
ini. Sejujurnya, permainannya lembut dan manis. Gue hampir nggak menemui kesalahan waktu dia memainkan lagu bergaya slow jazz ini, kecuali temponya yang
rada kecepetan dibanding versi aslinya. But overall, bolehlah lagu ini melemaskan badan yang rada stress gara2 lagu sebelumnya.

Yang terjadi selanjutnya mungkin adalah "yang terbaik" di konser ini (menurut gue) dan hal yang paling memalukan untuk gue. Iya, karena Sherina, mantan
penyanyi anak2 yang biasa menyanyikan lagu berjenis simfonik itu muncul membawakan theme song dari Final Fantasy X, Suteki Da Ne. Selain terkejut karena
bisa menyanyikan lirik Jepangnya dengan baik, gue pun terpesona dengan suara lembutnya yang tipis, hampir menyamai Rikki, penyanyi asli yang membawakan
lagu ini. Lagu ini juga dapet sambutan meriah dari penonton. Lalu apa kejadian memalukannya? Gue memang pengagum Sherina, dan...hehehe...gue nangis bombay
waktu lagu ini dinyanyikan...

Berikutnya adalah Aerith/Aeris Theme, lagu dari Final Fantasy VII yang dianggap agung dan suci. Nggak terlalu berlebihan kok kalau gue bilang gitu, karena
sesuai julukannya lagunya juga megah, tapi lembut, menggambarkan sosok Aerith yang memang seperti itu. Hehehe, untung gue nggak nangis lagi, meskipun lagu
ini adalah untuk mengiringi peristirahatan Aerith di alam nirwana...hiks hiks!

Gilirannya Kevin Aprilio, solo pianis dari Twilite yang unjuk kebolehan. Lagu yang dibawakannya adalah Fighting alias Tatakau Monotachi (FFVII). Kevin
yang nggak lain adalah putera Adi MS itu menarikan jari2nya di atas piano dengan mantap, memainkan lagu pengiring pertempuran yang bertempo cepat. Sesuai
janjinya yang pernah bilang sama penulis kalau dia cuma butuh waktu sehari buat latihan, cowok yang mengaku belajar musik sendiri ini cuma melakukan sedikit
kesalahan di akhir lagu. Tapi secara keseluruhan, boleh dibilang gue kagum dengan kemampuannya mainin lagu ini. Well, nggak semua orang bisa mainin piano
secepet itu lho...!

Suasana tegang akibat permainan piano Kevin tampaknya disadari pihak Twilite yang segera saja memainkan musik Chocobo, tema musik burung kuning nan gemuk
yang jadi alat transportasi di game2 FF. Dimainkan hanya dengan dua Oboe, musiknya terdengar lucu dan kocak abis! Kontan aja penonton langsung menyambutnya
dengan bertepuk tangan mengikuti irama musiknya. Wah, bahkan mas Adi MS pun menggoyangkan pantatnya mirip Chocobo lho!

Selanjutnya, suasana dibuat haru ketika Twilite memainkan lagu Cloud's Smile dari animasi FFAC. Ending theme ini bener2 terasa lembut, dan gue berani bilang
kalau ini dimainkan tanpa ada cacat celanya.

Well, untuk selanjutnya, Sherina kembali naik panggung dan membawakan lagu 1000 no Kotoba (seribu kata) dari Final Fantasy X2. Kali ini selain terpesona,
gue juga dibikin terkejut karena suara Sherina berubah! Beda banget sama penampilannya yang sebelumnya, suara Sherina yang tadinya tipis dan mendayu sekarang
berubah jadi tebel, dewasa dan megah! Mungkin ini suara versi dewasanya Sherina. Nggak heran sih, karena doski memang pernah digembleng Pranajaya untuk
olah vokalnya. Untuk lagu yang aslinya dibawain sama Koda Kumi ini gue harus bener2 berjuang untuk nggak nangis, hehehe.

Nah, sejauh ini musik2 FF yang dimainkan semuanya berbau klasik dan simfonik, manis dan mengharukan. Bagaimana kalau kita undang Wasabi, salah satu band
yang memainkan lagu2 Jepang (Pop dan Rock) untuk naik panggung? Yap, mereka naik dan lagu pertama yang dibawakannya adalah G.E.N.O.V.A. dari Final Fantasy
VII. Suasana langsung berubah kayak konser Metalica. Sayangnya, lagu pengiring pertempuran Cloud VS Kadaj (FFAC) ini nggak sepenuhnya berhasil mengangkat
kekuatan lagu itu, karena sound systemnya nggak bagus dan suara gitar listriknya jadi keredam. Selain itu, suara perkusi, dalam hal ini dramnya terlalu
mendominasi.

Masih dari Wasabi, lagu dilanjutkan dengan Longing, theme song game Final Fantasy VII Dirge of Cerberus. Gue nggak mau banyak komentar tentang lagu ini,
karena gue nggak gitu ngerti soal lagu2 J-rock gitu, sorry ye!

Nah, acara break sebentar karena Oom Adi MS berkenan membagikan hadiah kepada 3 orang pemenang lomba costplay yang diadain sorenya. Dalam break ini, kang
Adi bilang kalau dirinya salut atas penonton yang mau menikmati musik simfonik. Menurut dia, musik game itu ternyata luar biasa. Ditanya untuk konser selanjutnya,
penonton langsung me-request Adi untuk kembali menggelar konser musik game, nggak cuma FF tapi juga yang lain. "Baiklah, kita akan kembali nanti dengan
konser macem2," balas Adi setengah berkelakar.

Sayup2 di luar gedung kedengeran suara band. Ternyata di luar sana ada yang lagi manggung. Menanggapi hal itu, Mas Adi langsung mengangkat tongkat konduktornya,
dan choir dari PERBANAS/IPB yang join sama Twilite Chorus langsung buka suara. Sebentar aja, ruangan sudah bergemuruh ketika mereka mulai memainkan Divinity
dari FFAC. Bayangkan ada monster naga raksasa yang mengancam keselamatan penduduk kota, dan kita semua ditimpa kengerian. Suara choir yang melantunkan
syair perjuangan membahana, mengiringi pahlawan2 yang siap menumpas kelaliman monster itu. Hehehe, itu gambaran buat yang nggak tau kayak apa lagunya.
Tapi buat kalian fans FF yang udah nonton FFAC pasti langsung tau, musik ini adalah pengiring waktu Cloud dkk harus menghadapi Bahamut. Simfonik abis!

Usai pertempuran, pasti ada ending. Nah, untuk itu Twilite memainkan lagu jingle Final Fantasy yang biasanya nongol di setiap akhir game FF. Megah, agung,
kayak lagu kebangsaan...dan semua personel konser meninggalkan panggung... Tapi, apakah itu akhir dari konser ini?

"Always saves the best for the last," kira2 itu yang dilakukan Twilite. Karena setelah tepuk tangan panjang dari penonton, mereka kembali naik panggung.
Tunggu sebentar, kenapa choir dan Wasabi juga ikut2an naik? Nggak salah lagi, mereka bakal berkolaborasi! Apalagi kalau bukan untuk One-Winged Angel, musik
yang paling ditunggu pencinta FF dalam setiap konsernya. Rock, orkestra, dan choir... Tiga elemen itu menyatu dan menciptakan musik pertempuran yang dahsyat.
Gue cuma bisa bilang kalau lagu ini paling banyak dapet sambutan dari penonton, bahkan mereka beberapa kali bertepuk tangan waktu lagu ini dimainkan, termasuk
gue yang ikut nyanyi, hehehe! Sayang lagi2 sayang, kembali suara gitar Wasabi ketahan sama sound systemnya...

EPILOGUE

Bahagia...itu yang bisa gue ungkapin dari konser Beginning of Fantasy ini. Sekarang, gue sebagai pecinta musik game, dan mungkin pecinta musik game lain
disana nggak lagi harus malu mengakui dan punya hoby ini, karena sekarang musik game sudah mulai dikenal di Indonesia. Twilite Orchestra udah melakukan
sebuah langkah terobosan dengan membawa musik game live ke Indonesia.

Terselenggaranya konser ini tentu nggak lepas dari akar, mereka yang sudah posting di forum komunitas itu. Mungkin ada yang merasa idenya kecolongan, atau
merasa kalau idenya kesampaian. Terlepas dari itu, gue pribadi merasa ini adalah sebuah fantasi yang telah diwujudkan jadi kenyataan, so patut bersyukur!

Secara umum, permainan Twilite udah cukup baik. Meskipun gue nggak bisa bilang "I am satisfied," tapi dengan lantang gue bisa bilang "I am happy...!" Masalah
terbesar cuma ada pada EO dan pengaturannya aja kok. Tapi semoga ini bisa jadi pelajaran berharga untuk konser berikutnya, itupun kalau ada yak!

Special thanks goes to: Temen2 pemikir dan pengide konser ini. Twilite Orchestra beserta pasukannya. Square Enix yang udah ngasih ijin untuk memainkan
musik dari game produksinya. Fans FF yang udah ikut nonton konser ini. Yang terakhir, terima kasih buat Sherina...a thank you that I cannot explain...that
I could be very close to the singer I really love...

"THE END"