PUTUS ASA

Putus asa... Kurasa tak ada ungkapan yang paling pantas untuk menggambarkan keadaanku yang seperti sekarang, yang mungkin sudah beberapa kali aku tulis di diary online situsku ini. Kali ini aku mengalaminya lagi, dan ini salah satu yang terberat di antaranya...

Aku mohon maaf kalau diriku ini terlalu malu untuk mengungkap semuanya. Aku ini buruk, hina, tak berguna... Menyedihkan, sementara cacat dari dalam mataku tak dapat menyingkirkan sifat-sifat buruk dari hatiku... Malu, aku malu sekali....

Pujian, sanjungan, elu-elu tak lagi berarti bagiku. Itu hanyalah sebuah kebohongan dari satu sisi diriku yang dipandang orang lain... Seandainya saja kalian menemukan sisi yang lain, seperti yang telah ditemukan orang-orang terdekatku, yang akhirnya membuat mereka ngeri, takut, sakit, terluka...tentu kalian tak akan pernah mau mendekatiku...

Simpan, simpan saja kalimat semacam "jangan bicara seperti itu," "memangnya seburuk apa dirimu," "aku merasa kau luar biasa dan tak punya kekurangan," dsb dst...

Namun, kuucapkan terima kasih untuk kalian semua yang mungkin telah dengan ramah dan tulus serta ikhlas memberikan pujian atau sanjungan serta kebaikan untukku. Meskipun sekali lagi aku tak tahu apa yang akan kalian lakukan ketika kalian menemukan sisi yang lain. Rama "Aurora" yang mungkin tak akan pernah kalian kenal sebelumnya. Bukan sesosok pria dengan cacat mata yang tak kenal menyerah serta mengagumkan dengan berbagai hal yang dianggap orang sebagai kelebihan, tapi sesosok buta mata yang juga buta hatinya, penuh emosi dan rasa dendam serta egoisme yang meluap-luap, yang bersatu dalam suara kehancuran...

Aku malu, malu sekali... Telah kucoba untuk bicara dan bersenda gurau dengan lima bidadariku (baca artikel AKU DAN LIMA BIDADARI di halaman depan), tapi tetap tak ada gunanya... Semua tak akan merubah keadaan akan keburukan yang telah aku tebar... Lima bidadari hanya membawaku berfantasi ke kebohongan yang lebih parah lagi, yang mungkin akan semakin membutakan aku akan kekurangan dan kesalahanku...

Saat ini aku tak membutuhkan apapun... Pujian, musik game, nilai bagus dalam pekerjaan atau studi, gadis pendamping, bahkan kasih sayang... Hampa... Aku tak membutuhkan apa-apa... Di saat inilah ketika aku menjerit kepada Allah...

"Ya Allah, apabila keberadaanku di muka bumi ini hanya akan menjadi keburukan bagi orang lain, aku mohonkan kuasamu untuk menyingkirkanku dari mereka, dari orang-orang yang aku sayangi. Karena ketika aku menjadi buruk, aku tak akan mungkin menyadarinya...dan aku akan terus melukai mereka... Menyingkir jauh-jauh, kurasa itu yang terbaik jika hal demikian... Aku tahu engkau sangat membenci umatmu yang putus asa, tapi aku pun tak dapat berbuat apapun tanpa kuasamu... Jika mungkin, bawalah aku ke tempat dimana tak ada sesuatu pun yang akan terluka dan hancur karena aku... Mungkin ke sebuah tempat dimana hanya ada aku seorang... Tak akan ada emosi, tak akan ada egoisme, tak akan ada kekerasan, tak akan ada dendam, tak akan ada yang terluka dan menderita... Yang ada hanya ketenangan dalam diam... Namun, jika memang masih ada takdirku untuk dapat berguna dan berbahagia bersama orang lain, kumohonkan engkau kuatkan jalanku... Dengan ini kuserahkan sepenuhnya padamu, Ya Allah..."

Rekan sekalian yang membaca tulisanku ini, aku mohon maaf atas semua reaksi yang timbul ketika kalian membaca tulisanku ini. Mungkin setelah ini aku akan absen untuk waktu yang relatif lama. Aku ingin mencari tempat dimana aku dapat memperoleh ketenangan dan kebahagiaan, sementara aku dapat menghapuskan rasa putus asa ini dari hatiku. Tak ada satupun yang dapat menolong, tidak juga ayah ibu, kekasih, sahabat, atau musikku... Hanya Allah yang bisa...hanya Allah...

Untuk kalian, yang selama ini mungkin telah menganggapku hebat dan dahsyat, aku tahu kalian sedang terbingung-bingung membaca tulisanku ini. Tapi seperti yang aku telah tuliskan bahwa kalian baru melihat satu sisi dari diriku, tidak yang lain. Aku yakin kalian pun akan pergi setelah melihat sisi lainnya, dan aku tak mau hal itu terjadi...

Ayah, Ibu... Maafkanlah anakmu ini... Aku belum dapat membalas semua yang telah kalian berikan, malahan telah membebani kalian dengan berbagai masalah akibat diriku... Kumohon bukakanlah pintu maaf untukku...

Sahabat, kalian orang-orang dekat yang tahu semuanya tentang sisi terang dan gelapku, kuucapkan terima kasih atas kesediaan kalian terus mendampingi aku selama ini. Maaf kalau aku tak dapat menjadi sahabat yang baik untuk kalian...tapi berkat kalianlah aku masih bertahan sampai sekarang...

Kekasihku...engkau yang paling tahu tentang aku bahkan melebihi orangtuaku sendiri... Maafkan aku karena telah banyak menyakitimu dengan mengungkap terus keburukanmu, melukai fisik dan mentalmu, dan terlebih lagi selalu berusaha menang di atasmu... Kau tahu, aku semakin tak tega menyaksikan diriku ini terus-terusan berbuat itu padamu...jadi, kumohon maafkanlah aku...

Semuanya, terima kasih telah bersedia membaca tulisanku... Semoga segalanya akan lebih baik... Namun yang kuinginkan sekarang...hanyalah diam dalam hampa... Ingin rasanya aku pergi ke puncak gunung yang tinggi, pulau es di kutub, atau....bersantai di pantai matahari terbenam, mungkin...?