AURORA MENCARI BAHAGIA

Ini adalah catatan nyata, lima hari perjalananku mencari ketenangan hati. Ketika aku berada pada titik jenuh, dan yang ada di pikiranku hanyalah "putus asa," maka dimulailah perjalanan ini...

-Rabu, 31 Agustus 2005 s/d Minggu, 4 September 2005-

Masalah keluarga yang tak terpecahkan selama empat tahun, ditambah lagi lima huruf yang jika bersatu dibaca "cinta" yang saat ini tengah merontokkan akal sehatku, akhirnya membawaku ke terminal Kampung Rambutan Jakarta, setelah sebelumnya aku dihantar air mata sang tambatan hati. Tepat tengah malam (Rabu, 31 Agustus 2005), aku naik ke bus jurusan Jakarta - Bandung, yang dalam waktu sekejap telah menghantarku ke kota lautan api, tempat tujuanku. Tak memakan waktu lama memang, karena adanya jalan TOL penghubung Jakarta - Bandung, Cipularang, serta ditambah matinya semua fungsi alat syarafku (tidur), perjalanan 3 jam itu terasa seperti 1 menit saja.

Akhirnya aku tiba di Bandung sekitar jam 1 dini hari. Sepinya terminal dan kegelapan yang menyelimuti kota membuat angin malam yang menerpa terasa semakin dingin menusuk tulang. "Jang, ayo naik taksi! Mau nginap? Sekalian aja atuh sama ceweknya! 250 ribu ajah, hayuk sok!" Aduhai, betapa hangat dan manisnya tawaran si mamang tukang taksi, dan adalah sebuah hal yang mustahil bagi lelaki "normal" sepertiku untuk tidak tergoda... Untungnya, suasana dompet yang tidak bersahabat, ditambah lagi adanya si "iman" yang bersemayam di hatiku, akhirnya aku menolak dengan halus. "Nginap aja deh mang, nggak usah pakai cewek..."

Syukurlah, petualanganku di hari pertama berjalan mulus, setidaknya sebuah losmen murah seharga 50 ribu telah menyelamatkanku dari hembusan angin malam yang dingin. Mulus, semulus hilangnya seluruh uangku saat aku menitipkan tas ranselku pada penjaga toilet terminal bus. Akhirnya, aku meringkuk di ranjang, di ruangan kamar kecil nan sempit, ditemani keheningan dan hanya berbekal makanan ringan dan selembar uang 10 ribuan. "Bagaimana nanti lah, pikirkan nanti," hiburku seraya membaringkan badan dengan posisi terlentang dan mencoba tidur.

Tepat pukul sepuluh pagi, aku terbangun. Tanpa sedikitpun ingat akan kegiatan bersih badan yang disebut mandi, aku langsung berkemas dan meninggalkan losmen, menuju Jl. Pajajaran, di mana tujuan perjalananku ada disana... SLB Wyata Guna, sekolah luar biasa untuk tunanetra, di mana dulu aku pernah mempunyai teman baik yang memberiku tumpangan menginap. Teman baik yang saking banyaknya sampai-sampai aku lupa nama mereka...

"Permisi, ini teh asrama Anis? Saya mau ketemu sama...nggggg...dulu saya teh pernah menginap disini, tapi teman saya itu...wah saya lupa namanya!" Meskipun aku berdiri gugup di depan salah satu asrama putera di kawasan SLB yang lebih mirip kompleks perumahan BTN itu, siswa tunanetra yang saat itu sedang duduk-duduk menikmati jajanan bakso Malang tetap menyambutku dengan tenang. "Ini teh kak Rama yak? Yang wartawan itu? Yang meliput acara KAA di Babakan Siliwangi? Hei, Budi aya? Ada kak Rama dari Jakarta," teriak salah seorang yang ternyata mantan rekan seasramaku ketika di SLB/A Lebak Bulus dulu.

Tak lama setelah itu, Budi yang ternyata adalah orang yang pertama kali membawaku ke SLB Wyata Guna itu muncul, dan sebentar saja kami pun asyik terlibat pembicaraan seru seputar keadaanku dan SLB itu. "Kapan selesai kuliahnya nih?" "Asyik ya yang udah kerja!" "Wah HP bagus, boleh raba? Pasti beli dari uang gaji ya?" Silih berganti rekan-rekan tunanetra yang tinggal di asrama Anis itu menanyaiku... "Seandainya saja mereka tahu kalau kepergianku ke tempat ini adalah karena aku lari dari rumah..." bisikku lirih.

Untuk sementara, perasaan hancur dan putus asa itu reda manakala aku berbaur dengan siswa-siswi SLB Wyata Guna. Selain Budi, Irfan, Odok (bukan nama asli), Dadang, serta beberapa kenalan lama, aku juga berkenalan dengan Cici, Elsa, Nadia, dan beberapa siswa putri yang kesemuanya adalah penghuni asrama Mawar, letaknya persis di hadapan asrama Anis. Ada juga Bu Siti si penjual Indomie plus minuman segar, atau tukang donat bersuara serak yang hampir lima belas menit sekali mondar-mandir di lingkungan SLB ini.

Budi berkenan memberiku tempat menginap di asrama Anis, kamar 2. Disanalah tempatku berbincang-bincang, istirahat, melamun dan berdo'a di malam hari, atau menggeliat-geliat menikmati udara pagi sambil mendengarkan siaran olahraga dari salah satu stasiun radio swasta di kota Bandung. Terkadang aku juga ikut berkumpul dengan puluhan siswa tunanetra yang berdialog dengan memakai bahasa Sunda, meskipun aku tak terlalu paham isi pembicaraan tersebut.

Dalam peristirahatan hati ini, kuisi detik demi detik dengan amalan kebaikan. Sesekali aku mengajar siswa disana untuk dapat bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, memotivasi mereka agar mau belajar IT dan komputer, atau sekedar menghibur kakak-kakak yang sedang kesulitan mencari kerja. Tak hanya itu saja. Aku juga mengisi hari-hariku dengan bercanda ria, terkadang bermain kartu domino atau membunyikan koleksi musik dari ponselku. Sesekali aku juga berjalan-jalan ke luar SLB, menjenguk rekan tunanetra yang tinggal di kota Bandung, atau sekedar keluar cari makan malam.

Empat hari lamanya kuhabiskan di SLB Wyata Guna, tempat yang kusebut sebagai "surga kecil," karena di tempat inilah aku merasakan kedamaian dan ketenangan batin. "Wah jangan bilang gitu mas Rama. Kalau mas tinggal disini sebulan ajah pasti deh kerasa ada konflik atau masalah," jelas Budi meluruskan opiniku tentang sekolah dan asramanya. Kupikir itu tak ada salahnya, karena aku memang baru empat hari di tempat ini, dan aku tak dapat selamanya tinggal disini.

Akhirnya, Minggu pagi yang cerah mengajakku berpamitan dengan SLB Wyata Guna, dan aku segera menuju ke persinggahan berikutnya, Tasikmalaya...

Setelah terguncang-guncang selama empat jam di dalam minibus jurusan Bandung - Tasik, akhirnya aku tiba juga di Tasik, sekitar pukul dua siang. Tanpa menunggu lagi, aku segera menuju ke pesantren pimpinan H. Maksum, tempatku melarikan diri sekitar empat tahun lalu...

Menangis, berdo'a, dan memohon ketenangan serta petunjuk dari Allah... Itulah yang kulakukan setibanya aku di pesantren itu. Wejangan pak haji yang laksana siraman air di atas tanah gersang itu benar-benar dapat memadamkan gejolak amarah serta menumbuhkan lagi benih-benih kesabaranku. Terus seperti itu, sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta tepat tengah malam...

Senin, 5 September 2005... Akhirnya aku tiba kembali di Jakarta. Mungkin tak semua ketenangan batin dan kesabaran jiwa terbawa olehku, namun setidaknya ada makna yang terbawa... Setelah melewati beberapa kali kekalutan kecil, akhirnya aku tiba juga di rumah...

Aku kembali bertemu dengan kedua orangtuaku, menangis bersama dalam pelukan hangat yang tak pernah kurasakan sebelumnya... "Kamu akan jadi orang hebat, nak," do'a ibuku di sela-sela tangis kami. Bapak yang selama ini keras laksana batu juga luluh hatinya, dan memelukku dengan lembut... Inilah kedamaian yang kucari selama ini, kedamaian kedua setelah pelukan Allah yang sangat aku rindukan...

Akhirnya kutemukan jawab dari gelisah dan gundahku selama ini... Kasih sayang yang selama ini aku impikan, akhirnya terpancar dari kedua orangtuaku... Meski aku tak tahu apakah ini akan terus bertahan, setidaknya aku sudah tahu apa yang akan menguatkan hatiku, mengubah semua sifat burukku, serta menjadikanku lebih kuat lagi... Kasih sayang orangtuaku, yang sungguh indah, hangat, dan tiada duanya... Semoga Allah memberkati keluarga ini, keluarga yang tengah mencari kebahagiaan...

Untuk semua yang telah membaca catatan ini, dan mengetahui keburukan serta kelemahanku, ini ada kabar gembira dariku. Karena kedua orangtuaku telah sepakat untuk merubah diri dan hidup bersamaku dalam kasih sayang, Insya Allah itu akan sangat membantu dalam pemulihan motivasiku untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tunggulah, karena dengan dukungan orangtuaku, aku yakin dapat menjadi sosok yang baru dan lebih baik. Aku tahu itu akan memakan waktu dan butuh proses, tapi kupastikan aku pasti dapat melakukannya...

PERHATIAN: Allah membenci umatnya yang berputus asa, seperti halnya aku yang lari dari rumah karena tak sanggup lagi menahan diri. Jadi, untuk kalian yang masih sanggup bertahan, hendaknya tidak mengambil jalan ini...