KARIMA - TO BE WITH YOU 3

Gue nggak akan bisa brenti nangis kalau ingat semua kejadian itu. Nggak nyangka kalau semuanya harus ... nggak...gue nggak mau tulis "berakhir seperti
ini," tapi terhenti seperti ini. Rasa sakit yang gue derita akibat perpisahan itu sekarang malah berubah jadi penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam...
Gue udah coba untuk menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan Femmy dengan sengaja. Itu semua gue lakukan untuk menutupi rasa bersalah yang amat mendalam.
Rasa bersalah dan penyesalan yang nyaris menghentikan semua aktivitas gue...

-5 November 2003-

Kalau gue inget semuanya, nggak ada yang bisa gue lakukan selain menyesal dan menyesal. Sebagai seorang cowo' pasti bakal dianggap melebihi batas karena
air mata yang gue keluarkan untuk ini bener2 di luar batas. Setiap kali gue sendiri, lagi shalat, mau tidur, baru bangun, pokoknya setiap kali teringat
akan semua yang telah gue lakukan, I just can't do anything except crying... Semua pertengkaran hebat yang kita alami, awalnya datang dari gue. Seandainya
aja gue nggak pernah mengajukan permintaan2 sepele itu... Seandainya saja gue nggak terlalu percaya untuk mengungkapkan semua isi hati gue dengan jujur,
marah, sedih, serius atau yang semacamnya itu dengan terbuka... Seandainya gue bisa bersikap (walaupun munafik) seperti kalau gue jadi sandaran temen2
gue yang butuh bantuan: Selalu tersenyum dan jadi orang paling ramah tanpa beban... Seandainya hubungan kita itu bisa membuat Femmy merasa nyaman dan lebih
menyayangi gue... Tapi ternyata, gue sendiri yang telah merusaknya... Gue sendiri yang telah merusaknya... Sekarang, mungkin sudah terlambat, dan nggak
ada perasaan yang lebih menyiksa daripada ini...

Semula gue berpikir kalau nantinya kita bakal pisah dengan manis: Karena orangtua Femmy yang nggak setuju atau keluarganya yang ngerasa nggak cocok. Tapi,
belakangan gue baru menyadari bahwa ternyata guelah sumber penyebab perpisahan itu. Nggak ada yang lebih menyiksa perasaan kecuali mengetahui kalau orang
yang tadinya bisa sampai tergila-gila, sekarang bahkan menghindar dan nggak mau lagi berkomunikasi dengan gue... I was the one that destroy her feeling...

Gue juga menyesal karena telah menyikapi hubungan kita dengan terlalu serius. Seharusnya semua itu gue pendam di dalam hati. Man, gue masih 22 tahun dan
belum saatnya membebani anak umur 21 tahun dengan hal2 berat seperti itu. I just don't know, Femmy... I really just don't know... Seandainya aja gue lebih
peka dan tau kalau dia justru tertekan karena gue, gue pasti nggak akan melakukan itu...

Semua hal itulah yang kemudian membuat gue jadi linglung dan nyaris hilang kendali. Gue jadi plinplan dan nggak tau gue itu bertindak apa. Menyayangi atau
membenci Femmy? Menerima atau tidak menerima? Semua itu campur baur jadi satu dan sama2 ingin dikeluarkan. Hal itu lagi2 membuat Femmy sakit dan berpandangan
negatif tentang gue. Hasilnya, sekarang gue jadi sosok paling menakutkan buatnya. Ya ampun... Gue nggak pernah mau punya nightmare seperti ini... Gue ingin
sekali bisa jadi energy booster atau sandarannya, tapi karena ketololan yang gue buat sendiri menyebabkan gue jadi seperti ini...

What else? Sekarang bahkan gue nggak memikirkan keburukan apa saja yang telah Femmy lakukan. I am thinking of my bad... I DO... Bahkan seorang juru tulis
handal nan ekspresif seperti gue nggak bisa ngegambarin lebih jauh gimana tersiksanya perasaan gue sekarang. I really wanna show people just like I am
used to performing my heart, tapi kali ini gak bisa... Karena terlalu banyak pasang topeng bahagia waktu nolongin mereka2 yang sedang bersedih, gue jadi
gak bisa mengeluarkan kesedihan itu... Believe, cuma Allah yang tau seberapa parahnya...

---dan semua itu nggak akan ada gunanya kalau hanya disesali---

Oleh karenanya, gue nggak mau hidup gue terus2an seperti ini. Gue nggak mau jadi beban untuk orang lain. Gue nggak mau melukai orang terus-menerus, baik
sengaja ataupun tidak. Gue nggak mau jadi gila dan kehilangan hidup yang berharga hanya karena keburukan yang gue punya. Gue nggak mau lagi melakukan hal2
yang percuma, karena ternyata gue itu lemah...bahkan hanya berani mengancam seorang wanita dengan bunuh diri-tapi kenyataannya, gue hanyalah cowo' penakut
yang nggak berdaya di ujung keputusan Femmy...

Gue sadar kalau semua yang baik itu nggak akan kembali seutuhnya. Tapi, the old Rama is still here... Dia nggak mati... Gue tau kalau Femmy kehilangan rasa
cintanya karena old Rama hampir saja tewas. Femmy, dia masih hidup, and he is going to revive now... Nggak... Gue nggak mungkin berhenti dan menyerah disini...
Gue sadar kalau gue sudah membuat kerusakan yang amat parah, tapi gue mohon diberi kesempatan untuk mencoba memperbaikinya... At least, being her friend...
Sekarang gue harus konsisten, gak plinplan... Gue harus konsisten untuk tetap menyayanginya, karena ternyata gue nggak sanggup membenci atau dibenci...
Femmy, maafin Rama karena kemarin telah membuatmu merasa benci dengan sengaja. I never do that dirty sin. I just acted, trying to make you angry. In fact,
it just made me cry like rain...

Bertahap, perlahan-lahan... Mulai dari kirim e-mail dan memperhatikannya, gue harap bisa juga mengembalikan sedikit suasana hatinya seperti dulu... Gue
juga berusaha untuk nggak menghubunginya lewat telfon atau miskol, demi supaya dia bisa merasa lebih tenang tanpa gue. Kadang memang berat, apalagi kalau
gue kangen. But, I have to pay all things I've done... Setiap kali ada telfon yang masuk, gue selalu berharap kalau itu Femmy, yang sudah kembali percaya
untuk berkomunikasi dengan gue... Gue tau kalau perjuangan ini butuh waktu lama, apalagi karena kesalahannya yang gue buat sendiri. Gue juga akan mencoba
untuk tidak peduli apakah rasa sayang Fem bisa kembali atau nggak, karena kalau seandainya nggak, masakah gue harus berhenti lagi? Gue harus bisa merubah
keburukan yang ada... Atau, gue akan terus menerus kehilangan dan tersiksa seperti ini...

Entah sampai berapa lama Femmy akan bersikap seperti ini... Yang jelas, gue sudah merasa sangat terhukum dengan semua ini... Femmy, if you happen to read
this, Rama nggak melakukan pengungkapan ini untuk kembali menyalahkan Femmy... Ini memang kesalahan Rama, dan Rama memang harus membayarnya...

My greatest Allah, I don't know what else I should write... Sampai saat inipun gue masih merasa menyesal dan belum bisa memaafkan diri gue sendiri... Femmy,
Rama juga nggak tau gimana caranya minta maaf dan mengungkapkan penyesalan itu. Semua biar Allah yang memberi gantinya...

Please give me a chance ... at least, being your best friend... As I don't wanna lose people anymore...

 Rama: "Terus gue harus gimana, Ta? Gue bingung...!"

Wahita: "..."

Rama: "Ta, please jawab dong..."

Wahita: "..."

Rama: "Please... Please... Gue nggak bisa maafin diri gue sendiri kalau seperti ini terus... Gue bener2 nggak mau kehilangan Femmy...!"

Wahita: "..."

Rama: "Ta, gue bener2 sayang sama dia...!"

Wahita: "You do?"

rama: "..."

Wahita: "JAWAB!"

Rama: "Yeah..."

Wahita: "Kamu tau nggak sih arti kata cinta itu?"

Rama: "..."

Wahita: "Love beautifies everything, no matter it is sweet or bitter. Baik atau buruk, pahit atau manis, untung atau rugi, semua akan terasa indah..."

Rama: "Maksud elo, termasuk perpisahan gue ini? Elo bener2..."

Wahita: "Berarti apa yang kamu bilang itu bohong. Kamu nggak sungguh2 mencintai Femmy..."

Rama: "ELO!!! Jadi nggak ada seorangpun yang berdiri di bela..."

Wahita: "AKU TAHU! AKU TAHU! Kamu nggak kuat tersiksa karena kamu merasa kamulah yang menghancurkan cinta Femmy kan? Lalu, kamu juga tersiksa karena orang2
menilai cintamu itu rendah kan? KAMU BUTUH PEMBELAAN KAN!? OK! OK! Lemme tell ya! Cinta itu butuh pengorbanan, seperti yang kubilang tadi, apapun akan
jadi dan terasa indah! Mau denger? Femmy juga berbohong dengan bilang kalau dia sayang dan peduli sama kamu! She said NOTHING inside her "I LOVE YOU."
Kalau memang dia sayang, peduli dan mau mencintai kamu sepenuhnya, meskipun fisik dan mentalnya disakiti, dia nggak akan pernah merubah perasaannya! Meskipun
seluruh keluarga menghalanginya, dia akan tetap teguh pada pendiriannya! Now, you've GOT it, RAMA! Puas!!!???"

Rama: "Ja...jadi..."

Wahita: "Yeah! You have that strong feeling! Bahkan sampai semua keburukan yang dilakukan Femmy ke kamu, sampai sekarang kamu masih tetap mau menerima,
menghubungi, memperhatikan, memikirkan, atau bahkan bakal ngomong "YES" seandainya Femmy minta balik lagi, IYA KAN!? Kamu juga nggak menghindar darinya,
nggak lari darinya, nggak meninggalkannya, IYA KAN!? Now, you've also GOT it, RAMA! Puas!!!???"

Rama: "... ... ..."

Wahita: "LALU APA LAGI!? Yang kamu lakukan sekarang adalah menyiksa diri sendiri! Kamu selalu memikirkan kesalahan yang kamu perbuat dan dampaknya terhadap
orang lain, tanpa memikirkan bahwa orang itu cocok untukmu atau nggak. Rama, please stop hurting yourself...!"

Rama: "Ta..."

Wahita: "If you really love her, Rama, please don't try to compare hers and yours. You do, then keep loving her. It means, you have to accept every term
that is with you. Apakah dia itu pacar, isteri, teman, atau musuhmu sekalipun. Apakah dia menilaimu buruk atau baik, kembali menyayangimu atau tidak, menjauh
atau mendekat... Keep loving her, Rama..."

Rama: "It means, I have to accept her, meskipun hanya sebagai teman?"

Wahita: "Yes..."

Rama: "Tapi..."

Wahita: "Sayang, di dunia ini, aku makhluk kedua yang paling dekat sama kamu setelah pencipta kita. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan itu, sakit sekali...
Apalagi kehilangan itu terjadi karena perbuatan kita sendiri, dan rasanya pengen banget mengembalikan semuanya seperti dulu. Rama menyesal, dan bilang
kalau seandainya waktu jadi pacarnya kamu nggak berbuat seperti itu, pasti semuanya bakal baik2 aja. Walau gimanapun, itu semua tinggal penyesalan, Rama.
Tau kan? Penyesalan itu selalu dateng terlambat, dan semua itu NGGAK ADA GUNANYA..."

Rama: "... ... ..."

Wahita: "Like I said before: Untuk orang dengan cinta yang besar seperti kamu, mungkin Allah ingin mempertemukan kamu dengan orang bercinta besar pula.
That's why he probably wanted you to separate. Who knows? Atau mungkin aja setelah ini, Femmy bisa menyadari apa yang telah kamu perbuat dan kembali sama
Rama suatu hari nanti? Who knows? There are lots of possibilities, my dear."

Rama: "Lalu..."

Wahita: "Keep loving her, Rama... Kamu kan tau sekarang kondisinya seperti apa? Seluruh keluarga telah menekan dan memaksanya melakukan sesuatu. meskipun
itu harus, tapi akan jadi suatu beban yang berat buatnya karena telah dipaksa. Selain itu, kamu kan tau kalau Femmy itu jiwanya rapuh. Hal atau cobaan
kecil bisa jadi beban yang besar untuknya. Yeah, as she is still 13, I suppose..."

Rama: "Iya, Ta... Sekarang bahkan dia sulit dihubungi, nggak pernah bales e-mail dan sentuh2 weblognya... Gue jadi bingung... Sekarang yang ada di dalam
pikiran gue adalah gimana caranya menebus semua kesalahan yang pernah gue perbuat dengan terus memberinya semangat. I'm trying to be her energy booster..."

Wahita: "I guess, you don't need to do that..."

Rama: "Apa!? Tapi dia kan butuh se..."

Wahita: "That will be useless if she doesn't love things she is doing. You know what I mean?"

Rama: "Maksud elo?"

Wahita: "Dia lagi stuck ngerjain skripsinya kan? Kalo dia nggak menyukai pekerjaan membuat skripsi itu, seberapa banyakpun elo ngasih dorongan dan motivasi,
dia nggak akan pernah bergerak. Kenapa? Karena dia nggak mencintai apa yang dilakukannya. Tengok diri kamu deh... Kamu sekarang jadi orang super sibuk:
Ngurusin kuliah, jadi hacker, buat musik, nulis buat home page, ngerjain tugas kantor... Semua itu bahkan sampai2 menyita waktu istirahatmu. Tapi apa?
Kamu nggak pernah mengeluh dan protes soal itu. Kenapa coba? It's because you LOVE your activities! Memang kamu terbebani, tapi beban itu terasa kecil
karena kamu menyukai apa yang kamu kerjakan. Kamu pengen semuanya berhasil, jadi kamu siap menerima beban seberat apapun. Gotcha, eh?"

Rama: "..."

Wahita: "Itu kenapa tadi aku tanya: Do you really love Femmy? Kalau ya, apapun yang terjadi sama Femmy, kamu pasti enjoy2 aja, bahkan kalau dia MENIKAH
di depan matamu sekalipun, bahkan kalau dia MELUKAI kamu dengan benda tajam sekalipun, bahkan kalau dia nggak lagi menyayangimu sekalipun... Hehehe, kayaknya
jayus dan, well, it sounds high, eh? Tapi itulah CINTA! Can you reach it?"

Rama: "I don't know, but I'll try! Elo kan tau, gue ini manusia biasa yang nggak luput dari kekurangan..."

Wahita: "You believe in Allah, will you? Everything will be easy to be done! It won't be that perfect, but at least great! Sekarang jangan pikirin apakah
Fem bakal menghargai atau membalas kebaikanmu. Jangan pikirin juga apakah rasa sayangnya akan kembali atau nggak. Think of yourself! Be great for yourself,
others will follow. Bukan nggak mungkin kalau suatu hari nanti Fem bakal nyesel dan kembali kesemsem sama kamu? Lakukan hal yang lebih hebat ketimbang
hanya membuat sebuah keluarga menyesal karena nggak bisa mendapatkan kamu!!!"

Rama: "Ha? That great?"

Wahita: "Yup! coba tengok! Kalo boleh bilang, keadaanmu sekarang sudah cukup bikin orang2 takjub! bayangin! Dengan kondisi mata yang 5 watt begitu, kamu
bisa kuliah dan kerja, merancang home page dan bikin musik sendiri, jadi hacker (semoga Allah mengampunimu) yang jelas2 sulit dilakukan oleh orang2 cacat,
bahkan menguasai bahasa Inggris dan komputer dengan cepat. Bukannya kamu mulai belajar inggris tahun 1999 dan komputer tahun 2000 akhir? But, see what
you've got now! Kalau seandainya keluarga Fem bisa melihat, seharusnya mereka merasa lebih daripada hanya sekedar menyesal. Tapi ya itu tadi, standar manusia
tuh beda2, gak hanya berpatokan sama kelebihan, tapi mungkin aja materi dan sebagainya. So, kalo kamu hanya pasang target untuk membuat keluarga Femmy
menyesal, let me tell you kalau kemungkinan gagalnya 90%!!! So, buat target yang jauh lebih besar daripada itu!"

Rama: "Un...! OK! so, what should I do first? I mean, I can't let Femmy like that..."

Wahita: "Bener2 ketancep panahnya Cupid ya? Like I said: Spirits and energy booster will be useless if you don't know the way. Kamu udah tau kondisi Femmy
sekarang? She doesn't love what she is doing, so..."

Rama: "Gue harus membuatnya mencintai apa yang dilakukannya? Gue harus membuatnya senang mengerjakan skripsinya, gitu?"

Wahita: "TING...TONG! You've got the point! The first step to do is: Don't boost her too much. Lalu, perhatikan. Jangan meminta Femmy melakukan ini itu
seperti yang keluarganya lakukan. Intinya, DON'T ASK HER TO WALK, BUT WALK BESIDE HER..."

Rama: "Walk beside her? EI, aku emang anak sastra, tapi jangan pakai bahasa yang abstrak gitu dong!!!"

Wahita: "Maksudnyaaaaaaaaaa....: Jangan memintanya mengikuti suatu pilihan atau keputusan, tapi dukung setiap keputusan yang dia ambil. Kalau dia memutuskan
'A', say "I'll be with your 'A'," dan kalo dia mau yang 'B', than again tell her "I agree with your 'B'." You may lead her by giving her advice, but don't
do it too much. Kenapa? Femmy juga harus belajar menentukan sikapnya sendiri kalo dia mau jadi dewasa. Kamu hanya perlu ikutin aja apa maunya, karena bukan
kamu, tapi dia tau apa yang terbaik buatnya. Just do the best for her...! Dengan demikian, dia akan merasa dihargai, dan lebih dari itu, seseorang akan
mencintai keputusan yang diambilnya sendiri. Jadi, coba sekarang kasih contoh gimana nikmatnya ngerjain skripsi dan apa untungnya, Insya Allah it will
work..."

Rama: "Tapi, gue nggak tau gimana caranya, Ta!"

Wahita: "You have Allah, don't you? Ask him to guide you through. Eh, tapi inget! Jangan minta dia untuk memudahkan jalanmu membantu Femmy, tapi mintalah
agar kamu dijadikan orang yang kuat dan berguna buat semuanya...! Seandainya Fem tau hal ini dan mau lebih deket lagi sama Allah, aku yakin kalau dia gak
akan butuh energy booster lagi. Dia bisa jadi energy booster buat dirinya sendiri!!!"

Rama: "Gue usahakan! Meanwhile, gue juga harus menata diri gue sendiri. Gue harus bisa memaafkan diri gue sendiri dulu."

Wahita: "That's right. Maafkan dan lupakan keburukan yang pernah Fem perbuat. Anggap aja kalian baru kenal. Awas, jangan pedulikan apakah dia mau memaafkan
kamu atau mau melupakan hal2 buruk yang kamu lakukan. Sekarang, patokan gengsimu adalah sama Allah. Kalau Allah seneng sama usahamu, meskipun Femmy nggak,
kamu nggak akan merasa sedih. Being good is for your own, others will follow..."

Rama: "Thanks, my cuty angel..."

Wahita: "Don't... You have to thank Allah. You've done a lot tonight, so just do the rest..."

Rama: "Terima kasih, ya Allah..."

Wahita: "Amin..."

Rama: "Tapi, apa nggak mungkin kalo aku bakal nggak stabil lagi, bakal melukai Femmy lagi dsb?"

Wahita: "Exactly! Tapi, mikirin tentang itu hanya akan melemahkan semangatmu! Besides, kalo kamu benar2 mencintainya, kamu pasti punya usaha keras untuk
nggak melakukan itu."

Rama: "So, I have to fight for myself?"

Wahita: "Yeah, my dear... OK, are you feeling better now?"

Rama: "A lot... Oh ya, boleh minta tolong nggak?"

Wahita: "Apa...?"

Rama: *whisper...whisper*

Wahita: "I'll tell her that you love her so much... Sekarang, berjuanglah untuk jadi lebih baik walaupun Femmy nggak mempe..."

Rama: "Walaupun Femmy nggak ngasih tanggapan atau peduli. Even to this text..."

Wahita: "Yup!" *disappear*"

   SELASA: 18 November 2003

 Tak lagi sanggup kutahan air mata... Deras... Mengalir seirama lagu yang mengalun di telinga... Aurora & Karima - berakhir disini...

-18 November 2003: I KNEW I LOVED YOU : Savage Garden-

Sore ini, untuk pertama kalinya aku mendengarkan lagu ini. Rasanya aku terkena kualat, karena sebelumnya pernah juga, tapi hanya sekedar untuk mencari
nada guna membuat sebuah instrumen. Kulakukan itu sambil tertawa, tapi kini kudengarkan sambil menangis...

Ketika kutemukan hampa sebelum nama yang tercantum di penutup e-mailnya, air mata seolah tak lagi kuasa bertahan diam. Terus menetes, sampai akhirnya membanjiri
luka di hati. Kubiarkan tubuhku bergetar hebat, mengejang perisaikan rasa yang tak kuasa lagi bersembunyi. Kalaulah benda maya itu punya daya untuk jadi
nyata, yang diingininya kutahu ada hanya... Ia, dan aku, ingin ditahu...

Dalam pada itu, sungai hati mulai bergolak, ketika syair lagu menumpahkan maknanya... Terus... Terus membawaku hanyut ke arah belakang... Masa indah yang
telah kutinggalkan, kutinggalkan ketika iblis di dalam hatiku memaksanya berlalu. Bukan, bukan atas tangan siapapun, tapi ketika kelasi itu rusak dirajam
awakku punya nista. Ketika nadinya berhenti hanya dalam hitungan seperdelapan detik, dan saat semua itu dibawa pergi oleh masa sekarang, dan tak ada lagi...
Dia kehilangan rasanya padaku, tapi aku kehilangan dirinya.

Dalam durasi penghanyutan itu, ingin rasanya membebaskan semua. Teriakan, tangisan, kesakitan dan tetes-tetes darah yang kubuat sendiri. Ketika kusadar,
aku ini begitu lemahnya. Kutahu itu, namun kuacuhkan karena dunia bersandar pada sebelah cahaya yang kupunya. Tak mungkin membiarkan mereka padam sepertiku.
Demi separuh aurora yang ada, aku terpasung. Aku, seperti seorang ksatria berpedang berbaju besi terbuat dari kulit dewa, namun serangan mantera sihir
bernama munafik telah menembus sampai melukai nadi, dan tak ada yang tahu tetes-tetes air kolam jiwa yang mengalir kala sedang sendiri. 

Lalu, kuamati perjalanan mundurku. Kutengok diriku yang pada saat itu tersenyum bahagia, mengolah nada demi nada dari lagu ini tanpa memikirkan betapa
maknanya sangatlah dalam. Ah, tapi kurasa tidak juga. Aku begitu peduli akan syair yang tertutur dari mulutnya. Ah, tapi tidak juga. Syair hanyalah syair,
dan apa daya serima syair jikalau hati lupa akan tuan yang memperkuasanya. Yang ini mungkin benarnya, ketika syair hanya jadi sebuah syair. Ah, tapi tidak
juga. Untuknya, mungkin... Tapi, hatiku menjerit keras bersama tetes-tetes kristal yang membawa jatuh makna dari syair lagu ini. Jatuh, ke dalam hatiku
yang menatap ke arah depan. Mungkinkah syair ini hanya akan menjadi sebuah syair? Jawabku, TIDAK!!!

Ketika kusadari, penghanyutan itu telah menguras sepersepuluh tenagaku. Aku jadi lemas, yang berdaya hanya tak berdaya. Saat itulah ketika kudengar suara
mereka, yang selama ini bernaung dalam separuh auroraku. Haruskah aku terus seperti ini? Mereka mendapat pencerahan, sementara kutipu diriku sendiri tanpa
memberitahu siapapun kalau aku juga butuh aurora? Aku ingin mengatakan yang sebenarnya...! Sedih lalu menangis, bahagia lalu tersenyum, gembira lalu bersorak,
bahkan marah lalu bermurka. Ya, kupikir, atau aku takkan mendapat apapun dari separuh aurora yang kuberikan. menolong orang lain kataku? Tapi apa gunanya
kalau aku tetap hancur?

Kucoba keluar dari penghanyutan ini. menepi, lalu julurkan tangan. Lalu, kutahu Tuhan kirimkan segenggam tangan itu. Pemiliknya berakhir dengan sebutan
Aulia, pemilik jiwa besar untuk tubuh yang mungil. Ketika kusadari itu, kubiarkan tubuhku diangkat dengan cara yang sungguh di luar jangkauan pikiran orang
yang sedang kalut. Mungkin memang inilah cara satu-satunya... Kasihan, barangkali karena tubuhnya tak kuat menahan beban jiwanya, hingga dia harus menarikku
sekeras itu. 

Dalam usaha penarikanku menuju arah selamat, aku sadar kalau begitu aku naik, tak lagi bisa kurasakan penghanyutan itu. Bingung saat memilih, dan aku harus
beradu jiwa dengan dewi penolong. Ingin kuutarakan bahwa selama hidupku ini, aku selalu dikendalikan oleh penghanyutan. Yang kumau adalah tak lagi.

Sampai saat arah belakang itu jadi bagian seloka ini, posisiku masih dalam keadaan tergantung...

Kembali ke masa dimana aku duduk bersama lagu ini, tanpa hatinya lagi. Hatiku yang masih jadi miliknya, namun hatinya yang tak lagi. Kembali, aku berada
dalam dekapan kesedihan dan kesakitan. Kembali, air mata menderas...

Tapi, hei!!! TUNGGU SEBENTAR! Kalau bisa kulihat sekerjap hikmah yang baru saja kurasakan: Sebenarnya aku bahagia dengan luka ini. Sebenarnya aku bahagia
bisa terluka seperti ini. Sebenarnya aku begitu menikmatinya! BENAR! Kalaulah aku tak harus terganggu oleh pikiran-pikiran bahwa kini dia telah melupakan
aku dan membuang jauh-jauh makna syair lagu ini dari dalam hatinya, pasti aku sudah menyadari bahwa sudah sepantasnyalah aku bersyukur dan bahagia. Kenapa?
Karena sampai saat ini, aku tak kehilangan milikku sedikitpun, termasuk syair lagu ini. Bukan, bukan hanya syair, tapi juga maknanya! Jadi, aku benar-benar
punya cinta sebesar itu? Punya hati sebesar itu? Kalau ya, aku seharusnya bahagia karena aku tak kehilangan milikku itu. Mungkin bukan dia, tapi kupastikan
bahwa ketika aku bisa mendengarkan lagu ini sambil tersenyum, bersama entah jiwa siapa nantinya, ...DAN SEMUA YANG TELAH MENGHILANGKANKU DARI HATINYA AKAN
MENYESAL!!!

Kalau soalnya sudah sesederhana itu, tinggallah kufonis. Dia tak sekuat syair lagu yang dituturnya, TAPI AKU YANG KUAT. Begitu saja, betul tidak? Lalu,
tinggal menunggu apakah ada jiwa yang mampu membuktikan tuturan syair itu untukku. Mungkin dia, mungkin entah siapa. Ah, sederhana sekali! 

Wahai penolong, terima kasih atas semuanya. Aku tahu harus segera naik ke atas, tapi ijinkanlah aku memakai caraku sendiri. Aku tahu apa yang bisa membuatku
bahagia, bahkan ini takkan pernah kau sangka. Kalau memang cerita ini masih belum tutup, biar kuraih jiwanya dengan TANGANKU SENDIRI. Tapi kumohon, JANGAN
HALANGI AKU. Dalam air mata ini, aku bahagia...

Dia, atau entah jiwa siapa: Kupastikan suatu hari nanti kalian akan bahagia bersamaku. Meskipun namaku hilang, tapi milikku takkan pernah hilang... Sebelum
sempat kuguratkan, makna syair lagu ini telah jadi bermakna...

Aurora & Karima - kembali jadi - Rama & Femmy. Akhir dari cerita ini hanya bisa ditentukan oleh satu, bukan aku, dia atau siapa, melainkan Sang Pencipta
yang mengendalikan semua...