rabu, 23 april 2008

 

ramaditya di empat mata

"Kembali ke laptop...!"

Wah, nggak nyangka kalo hari ini gue berkesempatan ketemu sama salah satu pelawak kondang Indonesia yang mengasuh acara 4 Mata (Trans 7). Siapa lagi kalau bukan wong ndeso si pemilik bibir lebih, Tukul Arwana? Yap! Gue diundang untuk menjadi salah satu bintang tamu dalam acaranya!

Topik kali ini adalah "Orang-orang dengan berbagai kelebihan." Beberapa bintang tamu yang hadir di antaranya vokalis baru Aura Kasih, pelawak mungil Abdul yang kocak abis, Ki Edan dan isterinya (paranormal), dan yang paling menarik, seorang motivator cilik bernama Annisa Rania Putri (I'll tell more about her later on)!

Hehehehehe, gue masuk di sesi ketiga dan berkesempatan megang (lebih tepatnya nonjok secara halus) bibir lebih Bang Tukul! Secara teknis, gue diminta untuk menjelaskan profesi gue sebagai tunanetra yang menggeluti bidang jurnalistik dan musik menggunakan komputer, tentu saja dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga gampang dipahamin orang banyak.

Selanjutnya, gue diminta mendampingi Annisa. Cewek umur 8 tahun ini...let me say...betul2 rrrrrruuuuuuuuuuuuaaaaaar biasaaaaaaaaaaaa! Ternyata, sejak lahir ia sudah menguasai bahasa Inggris, dan meskipun dia orang Indonesia, dia nggak bisa ngomong bahasa Indonesia, lho! Kontan aja Bang Tukul cengar-cengir kayak orang bloon waktu Annisa angkat bicara, and I insistly had to help him eventually...hehehe!

Rencananya, rekaman show ini bakal ditayangin tanggal 28 April 2008. With that said, gue nggak bisa cerita lebih banyak tentang bagaimana seru dan lucunya acara ini...

PS: Special thanks goes to Sho, Sam, and Galih from Bina Insani for accompanying me...!

----------

Setelah acara itu, gue kontak2an sama Annisa. Nggak nyangka kalo kita ternyata punya banyak kesamaan dalam hal hobby. Sama2 getol baca novel, main game, kutak-katik komputer (Cewek seumuran dia? Amazing!), nonton film, dan banyak hal lain. Nggak kerasa kita ngobrol via telepon lebih dari 1 jam, dan kayaknya kosa kata bahasa Inggris gue udah kepake semua dan bener2 abis deh, hehehe malu gue!

Lebih lanjut, kemungkinan gue dan Annisa bakal berduet sebagai motivator, setelah sebelumnya gue juga udah punya pasangan duet dalam memberikan motivasi (Scroll down and read my first post for this month, will ya?).

minggu, 13 april 2008

 

i wanna break de record!!!

"Olala, emangnya rekor apa yang mau gue pecahkan?"

Well, ide gila ini muncul waktu gue menemani temen2 dari Kampus Bina Insani di acara peluncuran buku 13 Wasiat Terlarang di kantor Elex Media Komputindo. Buku yang diluncurkan di 2 negara (Singapura-Indonesia) di atas tiga kendaraan berbeda (Udara, laut, darat) itu mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai...ya itu tadi yang gue udah sebutin!

Di kesempatan itu, gue ketemuan langsung ama gembongnya MURI, Bapak Jaya Suprana. Setelah ngobrol2, tiba2 terbersit ide gila itu; gue ingin memecahkan rekor MURI yaitu mengetik nonstop selama 24 jam tanpa berhenti. Nah, ide itu kemudian disempurnakan menjadi mengetik autobiografi dalam waktu 24 jam tanpa terputus, dan nantinya autobiografi tersebut bakal diterbitkan sebagai buku. Nggak mau bahas apa itu autobiografi dan bagaimana isi bukunya, ah! Ntar gue dibilang narsis, hehehehe!

Rencananya, pemecahan rekor itu akan dibuat besar-besaran dan didukung langsung oleh MENRISTEK (Kementerian Riset dan Teknologi). Sebagai Event Organizer utama, teman2 dari Bina Insani bersedia membantu, dan didukung juga sama rekan2 lain yang nanti akan segera menyusul setelah ketahuan bentuk acaranya seperti apa. Sekarang sih lagi nyari sponsor untuk penyelenggaraan acara dan biaya penerbitan bukunya kalo udah jadi. Buku itu rencananya bakal dicetak langsung oleh Elex Media Komputindo.

Guys, doain ya, supaya gue berhasil menjalankan keinginan gue ini..., amiiiiinnnn!!!

jum'at, 11 april 2008

 

menjadi seorang motivator (part 2)

*Silahkan membaca bagian pertamanya di diary online Maret 2008*

Yups...! Ini adalah salah satu pekerjaan (lebih tepatnya, hobby) baru yang gue jalani sekarang. Ibarat pepatah "Sambil menyelam minum air," selain bisa memotivasi diri sendiri dan orang lain, lewat kegiatan ini gue bisa jalan2 ke banyak tempat dan menemui hal2 baru dan teman2 baru.

Sebenernya gue udah bahas panjang lebar mengenai kegiatan ini di Multiply, makanya gue copy-paste aja nih artikelnya. It will sound so formalistic, soalnya emang tulisan2 gue di Multiply gue tulis dengan nada formal, hehehe...mind me!

So, here goes...!

----------

Temans, menjadi seorang motivator adalah salah satu cita-citaku yang ingin sekali kuwujudkan. Nampaknya, cita-cita itu mulai dilirik oleh Allah, dan ia berkenan membukakan jalannya. Lewat catatan kali ini, ijinkan aku menceritakan salah satu pengalamanku menjadi seorang motivator. Mungkin ini bukanlah yang pertama kulakukan, tapi ini menjadi yang pertama kalinya -- di bawah bimbingan seorang guru -- aku melakukannya dengan profesional...

Setelah penayangan KICKANDY (Metro TV) episode "Melihat Dengan Mata Hati" yang menampilkan aku dan rekan-rekan tunanetra lainnya, dan melihat betapa luar biasanya respon positif yang diberikan oleh para pemirsanya, keinginanku untuk menjadi seorang motivator kian membara. Rupanya Allah tak ingin api semangat itu padam, hingga ia menuntunku bertemu dengan seorang dokter, namanya Ibu Aisah Dahlan. Beliau inilah yang dalam perkembangannya menjadi guru motivasi pertamaku.

Kami bertemu di Rumah Sakit Harum yang terletak di bilangan Kalimalang, Jakarta Timur. Saat itu, Ibu Aisah sedang menggelar acara MBS (Mind, Body, Soul), sebuah program yang ditujukan untuk memotivasi sekaligus merelaksasi pesertanya.

Dalam program tersebut, kita diajak untuk mengenal salah satu bagian tubuh yang luar biasa, yaitu otak, untuk kemudian mengenal pembagiannya (otak kanan dan otak kiri) serta fungsi-fungsi dahsyatnya. Lewat program itu pula, peserta diajak relaksasi dengan teknik yang disebut CO-EX (Consciousness Expansion), dimana anggota tubuh akan memperbaiki sendiri kerusakan dan kepenatan yang ada di tubuh (lebih jelasnya silahkan mengikuti program tersebut).

Kembali ke Ibu Aisah. Ternyata, beliau sendiri adalah ketua unit penanganan ex-pengguna NARKOBA di beberapa rumah sakit di Jakarta. Nah, anggota timnya ternyata terdiri dari mereka-mereka yang telah pulih dari NARKOBA dan berada pada fase after care. Jadi, setiap ada acara motivasi, trainernya adalah teman-teman ex-pengguna NARKOBA bimbingan Ibu Aisah.

Lalu, bagaimana dengan aku? Kalau tim Ibu Aisah terdiri dari mantan pecandu NARKOBA, aku adalah pecandu game dan IT (Informasi dan Teknologi), begitu menurut ibu lima anak ini (dari yang tertua sampai termuda; Lanang, Prio, Kakung, Jaler, Ragil).

Setelah menodongku di pertemuan pertama (baca: Ibu Aisah minta aku memberi motivasi di Rumah Sakit Harum tanpa konfirmasi dulu), kami jadi sering bertemu di acara-acara motivasi yang digelar Ibu Aisah. Bukan sebagai peserta, tapi aku bergabung dengan rekan-rekan tim Ibu Aisah untuk bersama-sama memberi motivasi. Modul yang diberikan pun beraneka ragam, dari mulai soal NARKOBA sampai video game (saya tidak bertanggungjawab atas yang satu ini, hihihihi).

Sehari sebelum acara motivasi, biasanya aku menginap di rumah Bugis milik Ibu Aisah di kawasan Kalibata. Rumah ini dijadikan MABES rekan-rekan tim untuk mengerjakan berbagai kegiatan, mulai dari mengkonsep modul motivasi, membuat panganan ringan, menjahit, sampai mengolah multimedia.

Di tempat ini pula aku mendapat banyak teman baru, dan aku jadi semakin tahu tentang seluk beluk NARKOBA dan merasakan lebih dalam perasaan teman-teman yang berupaya keras ingin lepas dari benda terlarang itu.

>>> Teman Baru, Dari Pendidik Sampai Gamer<<<

Dalam setiap acara, aku didampingi Mas Hanis Hidayat, salah satu binaan Ibu Aisah yang bertugas sebagai operator (sekarang merangkap manajer Ramaditya, katanya). Jadi, kami berdua sering bertemu dan duduk bersama di meja operator, karena kami menggunakan dua laptop; milik Mas Hanis sendiri, dan Via-ku tercinta (Asus Eee PC).

Perjalanan Ramaditya menjadi motivator pun dimulai! Bersama tim Ibu Aisah, kami memberi motivasi di berbagai tempat, mulai dari sekolah, kampus, hingga instansi pemerintah.

Kami pernah memberi motivasi di LABSCHOOL yang terletak di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Lewat playback theater, digabung dengan presentasi digital (audio/video) yang diberikan Ibu Aisah, dan dilengkapi dengan presentasiku seputar motivasi diri, kami memberi penyuluhan seputar NARKOBA dan efek buruknya.

Tak hanya itu saja! Saat berkunjung ke Sekolah Islam TUGASKU (tempat salah seorang putera Ibu Aisah bersekolah), aku bahkan memberi materi seputar dampak video game di kalangan anak-anak dan remaja. Suasana begitu heboh, karena memang sebagian besar murid-murid TUGASKU adalah gamer! Saking hebohnya, hingga orangtua murid dan guru-guru pun ikut serta!

Aku pun pernah dilepas sendiri oleh Ibu Aisah untuk memberi motivasi di Kampus Bina Insani (Bekasi). Disini pun tak kalah hebohnya, karena selain mahasiswa, beberapa staff pengajarnya pun ikut serta. Disini juga untuk pertama kalinya aku memimpin olah tubuh dengan teknik CO-EX yang aku pelajari dari Ibu Aisah.

Oh ya, kami juga pernah bersama-sama dengan Bunda Iffet (Slank) menemui para Slankers di kota Karawang, tepatnya di kampus UNSIKA. Acara motivasi dan penyuluhan NARKOBA disana lebih heboh lagi, karena ratusan slankers hadir sekaligus untuk merayakan ULTAH grup band Slank. Terbayang kan? Bagaimana jadinya acara motivasi yang dipadu dengan nyanyi dan tari?

Teman baru pun terus kudapatkan, mulai dari peserta yang mampir ke buku tamu situsku, sampai mereka yang berkirim pesan via SMS/telepon. Ya, aku bahagia mendapat banyak teman baru...!

>>> The Show Will Go On <<<

Begitulah kira-kira kisah singkatku saat memulai perjalanan menjadi seorang motivator. Lebih jelasnya akan kutulis di situs utama RAMADITYA.COM.

Aku sungguh bahagia bisa melakukan hal yang menurutku mulia ini. Selain Ibu Aisah dan rekan-rekannya, bicara soal ketunanetraan dan bagaimana aku bisa bertahan benar-benar menumbuhkan efek positif yang luar biasa. Mendengar peserta termotivasi (baca: terharu, menangis, dan bersemangat untuk jadi lebih baik lagi) benar-benar menjadi penguat hati untukku, sekaligus memotivasi diriku sendiri untuk jadi lebih baik lagi.

Saat ini, aku boleh dibilang masih "junior" dalam profesi ini. Tapi aku akan terus menjalaninya dengan tulus dan ikhlas, hingga nantinya bisa bersama-sama para motivator profesional memberikan motivasi hidup untuk orang banyak. Untuk pribadi, aku menganggap hal ini sebagai kesempatan emas untuk membuktikan firman Allah, bahwa segala makhluk ciptaannya adalah yang terbaik...